Selasa, Juni 2, 2026
spot_img

Sedekah Bumi Karang Kali: Merawat Syukur, Menjaga Warisan Spiritual Leluhur

Oleh Redaksi Lingkaralam.com

Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser berbagai tradisi masyarakat, warga Dusun Singkil dan Karang Kali, Desa Mentoro, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, masih setia menjaga satu warisan yang sarat makna: Sedekah Bumi.

Pada Selasa siang (2/6/2026), kawasan religi Karang Kali kembali dipenuhi warga yang datang dengan satu tujuan yang sama, yaitu bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan serta mendoakan para leluhur yang telah mendahului mereka.

Sedekah Bumi bukanlah sekadar tradisi tahunan. Di balik setiap doa yang dipanjatkan, tersimpan kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba yang hidup dari kemurahan Sang Pencipta. Hasil panen yang melimpah, kesehatan yang terjaga, keamanan desa, hingga kerukunan warga merupakan nikmat yang patut disyukuri bersama.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Nilai itulah yang tampaknya terus hidup dalam masyarakat Mentoro. Mereka memahami bahwa rasa syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui kebersamaan, gotong royong, dan doa bersama untuk kemaslahatan desa.

Kawasan Karang Kali sendiri memiliki kedudukan khusus dalam sejarah masyarakat setempat. Di tempat tersebut bersemayam sosok yang dikenal sebagai Mbah Abdurrohim atau Pangeran Pringgodani, tokoh yang diyakini berjasa dalam syiar Islam dan pembangunan kehidupan masyarakat di wilayah tersebut.

Makam itu bukan sekadar penanda kematian seseorang. Ia menjadi pengingat bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT. Di hadapan makam para pendahulu, manusia belajar tentang kerendahan hati, tentang perjalanan hidup yang sementara, dan tentang pentingnya meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi yang akan datang.

Karena itu, ziarah yang dilakukan masyarakat bukanlah untuk meminta kepada penghuni makam, melainkan sebagai sarana mengingat kematian, mendoakan orang-orang saleh yang telah wafat, sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan mereka.

Di bawah cahaya matahari yang menerangi area makam pada siang hari itu, warga tampak duduk bersama tanpa memandang status sosial. Tidak ada sekat antara kaya dan miskin, tua dan muda. Semua larut dalam suasana kebersamaan yang penuh kehangatan.

Inilah hakikat ajaran Islam yang sesungguhnya: memperkuat ukhuwah, menumbuhkan kepedulian sosial, dan menjaga silaturahmi. Sebab Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Tradisi Sedekah Bumi Karang Kali pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga budaya leluhur. Lebih dari itu, ia menjadi ruang spiritual yang mengingatkan manusia akan asal-usulnya, akan kewajibannya bersyukur, serta akan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Selama nilai-nilai tersebut tetap hidup di tengah masyarakat, Sedekah Bumi tidak akan sekadar menjadi tradisi. Ia akan terus menjadi cahaya yang menerangi perjalanan sebuah desa dalam menjaga iman, persaudaraan, dan warisan kebaikan dari generasi ke generasi.

Baca juga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Terkini

error: Konten diproteksi!