Tuban, Lingkaralam.com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Rengel 1, Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban menuai keluhan dari siswa dan wali murid. Sari kedelai yang dibagikan pada Kamis (26/2/2026) dilaporkan berbau tidak sedap dan berubah warna sehingga diduga sudah tidak layak konsumsi.
Paket MBG yang disalurkan melalui SPPG Baktya Graha tersebut berisi sari kedelai, telur rebus, dan pisang cokelat (piscok). Namun sejumlah siswa mengaku sari kedelai yang diterima, terutama oleh siswa kelas 4, 5, dan 6, dalam kondisi basi.
Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya mengatakan sebagian besar teman sekelasnya menerima sari kedelai dengan kondisi serupa.
“Kemarin menunya sari kedelai, telur rebus, dan pisang cokelat. Tapi sari kedelainya basi. Teman-teman saya juga semuanya basi,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan wali murid. Mereka menyayangkan minuman yang diduga sudah basi masih dibagikan kepada siswa. Selain itu, wali murid juga menyoroti kondisi kemasan piscok yang dinilai kurang layak karena lecek dan topping menempel pada bungkus.
“Setidaknya harus ada tim audit di setiap MBG di Tuban supaya tidak terjadi lagi kasus makanan atau minuman basi seperti kemarin,” ujar salah satu wali murid.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi mengganggu kesehatan siswa. Ia pun mendorong adanya pengawasan lebih ketat terhadap pelaksanaan program MBG di Kabupaten Tuban.
“Orang tua banyak yang menyampaikan ke guru bahwa sari kedelainya ada yang basi,” tambahnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan program nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan pemenuhan gizi siswa. Meski demikian, dalam pelaksanaannya program tersebut masih menuai sejumlah catatan, terutama terkait mutu dan kelayakan makanan yang dibagikan.
Peristiwa di SDN Rengel 1 menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat dalam pelaksanaan program MBG, khususnya selama Ramadan, agar tujuan pemenuhan gizi siswa tidak justru menimbulkan risiko kesehatan.
Oleh: Redaksi




