Senin, April 20, 2026
spot_img

Pesona Sunyi di Punggung Kapur: Ketika Fakta Berbicara dari Gununganyar

Tuban, Lingkaralam.com — Desa Gununganyar, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, tidak banyak berbicara. Ia tidak membutuhkan kata-kata panjang untuk menjelaskan dirinya. Cukup dengan apa yang ada, fakta-fakta di lapangan telah lebih dulu menyampaikan cerita.

Perbukitan kapur itu memang tampak kering dari kejauhan. Itu nyata. Tanahnya keras, vegetasi tidak serapat pegunungan hijau pada umumnya. Namun di balik kondisi tersebut, terdapat sebuah telaga alami “Sendang Ngerong” yang airnya muncul langsung dari sela-sela batu. Ini bukan asumsi, melainkan kenyataan yang bisa dilihat dan disentuh.

Air di telaga itu berwarna kehijauan dan relatif jernih. Pepohonan tumbuh di sekitarnya, menciptakan area teduh yang kontras dengan karakter kawasan kapur. Wisata Alam Gununganyar (WAG) ini menunjukkan bahwa Gununganyar memiliki potensi ekosistem kecil yang unik, sesuatu yang tidak umum ditemukan di lanskap serupa.

Di sekitar lokasi, terdapat makam Mbah Gendu atau Pangeran Suroyudo (Mbah Abdul Qodir). Keberadaan situs ini menandakan bahwa kawasan tersebut tidak hanya bernilai alam, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan religius yang hidup di tengah masyarakat.

Pada hari biasa, pengunjung tetap ada. Namun saat hari libur, jumlahnya meningkat signifikan. Ini terlihat dari kepadatan area di sekitar telaga. Pengunjung, terutama kalangan remaja, memanfaatkan lokasi untuk berfoto dan berenang. Sebagian menggunakan ban kendaraan sebagai alat bantu mengapung.

Aktivitas ini berlangsung tanpa pungutan biaya, karena hingga kini belum ada sistem pengelolaan resmi yang mengatur secara menyeluruh.

Kondisi tersebut berbanding lurus dengan fakta lain di lapangan. Fasilitas pendukung masih minim. Area belum tertata dengan baik. Kebersihan menjadi persoalan yang terlihat, ditandai dengan daun kering yang berserakan dan beberapa titik yang tampak kurang terawat. Ini bukan opini, melainkan kondisi yang dapat diamati langsung oleh siapa pun yang datang.

Di sisi lain, potensi ekonomi juga tampak jelas. Arus pengunjung yang sudah terbentuk menunjukkan peluang bagi masyarakat sekitar untuk mengembangkan usaha kecil dari kuliner hingga layanan sederhana bagi wisatawan. Namun hingga saat ini, potensi tersebut belum dimaksimalkan.

Wisata WAG berada di titik yang jelas: memiliki daya tarik, namun belum dikelola optimal. Fakta-fakta yang ada tidak saling bertentangan, justru saling menguatkan. Keindahan alam tersedia, minat pengunjung sudah ada, tetapi pengelolaan masih tertinggal.

Tanpa perlu dilebih-lebihkan, kondisi ini menyampaikan satu hal sederhana wisata WAG bukan kekurangan potensi, melainkan masih menunggu penataan.

Di perbukitan kapur itu, alam telah menunjukkan apa yang dimilikinya. Selebihnya, menjadi bagian manusia untuk menentukan arah: membiarkannya berjalan apa adanya, atau mulai mengelola agar memberi manfaat yang lebih luas.

Penulis: M Zainuddin 

Baca juga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Terkini

error: Konten diproteksi!