TUBAN, Lingkaralam.com — Kehadiran proyek reaktivasi sumur minyak tua di Lapangan Tawun yang dikelola PT Tawun Gegunung Energi (PT TGE) sebagai mitra Kerja Sama Operasional (KSO) PT Pertamina EP memunculkan sejumlah aspirasi dari masyarakat Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban.
Warga berharap perusahaan menyelenggarakan sosialisasi secara terbuka mengenai rencana operasional proyek, termasuk informasi terkait pengelolaan lingkungan, potensi dampak kegiatan, serta langkah-langkah mitigasi yang akan dilakukan.
Selain itu, masyarakat juga meminta kepastian mengenai penyerapan tenaga kerja lokal serta antisipasi terhadap kerusakan jalan poros kecamatan yang diduga mulai terdampak meningkatnya mobilitas kendaraan proyek bertonase besar.
Aspirasi tersebut mencuat setelah sejumlah warga membentangkan spanduk di depan menara pengeboran (rig) milik PT TGE sebagai bentuk penyampaian aspirasi agar komunikasi antara perusahaan dan masyarakat dapat berlangsung secara lebih terbuka.
Koordinasi Pemerintah Kecamatan
Camat Bangilan, Suwanto, SE., MM, membenarkan adanya dinamika komunikasi antara masyarakat dan pihak perusahaan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, pemrakarsa proyek telah melakukan pertemuan dengan Pemerintah Desa Kumpulrejo.
“Monggo menghubungi Pak Kades untuk jelasnya. Katanya dari pemrakarsa sudah bertemu dengan Pak Kades,” ujar Suwanto saat dikonfirmasi, Sabtu (4/7/2026).
Meski demikian, menurutnya masyarakat menginginkan komunikasi tersebut tidak hanya dilakukan pada tingkat pemerintah desa, tetapi juga melibatkan warga secara langsung melalui forum sosialisasi yang terbuka.
“Warga minta diadakan sosialisasi ke masyarakat,” tambahnya.
Penyerapan Tenaga Kerja Lokal Jadi Harapan
Selain menginginkan keterbukaan informasi, masyarakat juga berharap keberadaan proyek migas tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi secara langsung melalui perekrutan tenaga kerja lokal.
Menurut Camat Bangilan, harapan tersebut telah lama disampaikan masyarakat. Namun hingga aktivitas proyek mulai berjalan, warga menilai realisasi penyerapan tenaga kerja lokal belum terlihat secara nyata.
“Masyarakat berharap ada tenaga kerja lokal yang bisa direkrut, tapi belum direalisasikan oleh PT TGE,” kata Suwanto.
Warga Soroti Kondisi Jalan dan Keselamatan Pengguna Jalan
Di sisi lain, warga juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi jalan poros kecamatan yang menjadi jalur utama kendaraan proyek.
Salah seorang perwakilan warga Desa Kumpulrejo yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan meningkatnya intensitas kendaraan bertonase besar diduga mulai berdampak terhadap kerusakan ruas jalan.
“Kendaraan-kendaraan besar milik proyek lewat setiap hari dengan membawa peralatan berat, membuat sepanjang jalan poros kecamatan mulai hancur,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Selain persoalan infrastruktur, warga juga menyoroti aspek keselamatan pengguna jalan. Menurutnya, dimensi kendaraan proyek yang besar sering kali menyulitkan kendaraan lain untuk berpapasan sehingga meningkatkan potensi risiko kecelakaan.
“Kalau kendaraan besar membawa peralatan melintas, otomatis kendaraan lain sulit bersimpangan. Kondisi ini tentu membahayakan pengguna jalan,” ungkapnya.
Masyarakat juga berharap perusahaan turut bertanggung jawab menjaga kondisi infrastruktur yang digunakan selama operasional proyek agar tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
DPRD Tuban Diharapkan Memfasilitasi Dialog
Di tengah belum adanya titik temu, warga juga berharap DPRD Kabupaten Tuban menjalankan fungsi pengawasannya dengan meninjau langsung kondisi di lapangan sekaligus memfasilitasi dialog antara masyarakat, perusahaan, dan instansi terkait.
“Sebenarnya warga berharap para wakil rakyat tidak tinggal diam dan bersedia memfasilitasi rapat dengar pendapat atau hearing dengan memanggil manajemen PT TGE serta dinas terkait agar hak-hak masyarakat dapat diperhatikan,” ujar perwakilan warga.
Menunggu Tanggapan Resmi Perusahaan
Aspirasi masyarakat dan keterangan dari Pemerintah Kecamatan Bangilan menggarisbawahi pentingnya komunikasi yang terbuka dalam pelaksanaan proyek reaktivasi sumur minyak tua, khususnya terkait penyampaian informasi kepada masyarakat, perlindungan infrastruktur, serta kepastian manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
Hingga berita ini diterbitkan, Lingkaralam.com masih berupaya melakukan konfirmasi ke Kepala Desa Kumpulrejo terkait harapkan masyarakat yang menginginkan adanya sosialisasi antara masyarakat desa dengan pihak perusahaan.
Media ini juga telah mengupayakan konfirmasi kepada manajemen PT Tawun Gegunung Energi (PT TGE) maupun Humas PT Pertamina EP guna memperoleh tanggapan resmi terkait tuntutan sosialisasi kepada masyarakat, penanganan jalan yang dikeluhkan warga, serta realisasi penyerapan tenaga kerja lokal.
Apabila tanggapan resmi telah diperoleh, media ini akan memuatnya sebagai bagian dari pemenuhan prinsip keberimbangan informasi dan hak jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik.
Sementara itu, informasi yang dihimpun Lingkaralam.com menyebutkan, di kawasan Lapangan Tawun, Desa Kumpulrejo, terdapat sekitar 14 sumur minyak tua peninggalan era kolonial Belanda.
Hingga saat ini baru satu sumur yang telah direaktivasi dan mulai beroperasi, sementara 13 sumur lainnya masih berpotensi dikembangkan pada tahap berikutnya.
Potensi pengembangan tersebut dinilai semakin mempertegas pentingnya keterbukaan informasi, pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan, serta komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan investasi, perlindungan lingkungan, keberlanjutan infrastruktur, dan pemberdayaan tenaga kerja lokal agar keberadaan proyek benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi
Oleh : M. Zainuddin




