TUBAN, Lingkaralam.com – Aktivitas pengeboran dan servis sumur minyak dan gas (migas) di Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Warga meminta seluruh kegiatan dihentikan sementara hingga PT Tawun Gegunung Energi (TGE) melakukan sosialisasi dengan masyarakat.
Penolakan tersebut ditujukan terhadap aktivitas PT Artekno selaku vendor lapangan PT TGE, pemegang Kerja Sama Operasi (KSO) Pertamina EP Cepu. Menurut warga, mobilisasi alat berat dan operasional proyek berlangsung tanpa adanya pemberitahuan maupun koordinasi dengan masyarakat sekitar.
Salah seorang warga Desa Kumpulrejo yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku keberatan atas aktivitas tersebut. Menurutnya, kendaraan berat keluar masuk lokasi proyek tanpa didahului sosialisasi.
“Kami tidak pernah diajak komunikasi atau kordinasi. Tiba-tiba sudah ada aktivitas keluar masuk kendaraan berat,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).

Selain mempersoalkan minimnya sosialisasi, warga juga mengeluhkan kondisi infrastruktur jalan desa yang disebut mulai mengalami kerusakan akibat tingginya intensitas kendaraan proyek.
“Jalan di sini mulai rusak parah sejak ada aktivitas pengeboran sumur migas,” tambahnya.
Sebagai bentuk protes, warga membentangkan sebuah spanduk di akses menuju lokasi pengeboran. Dalam spanduk tersebut tertulis tuntutan agar kegiatan pengeboran dihentikan sementara sebelum PT TGE melakukan sosialisasi.
“Masyarakat Desa Kumpulrejo meminta stop kegiatan pengeboran minyak di wilayah Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, sebelum PT TGE bersosialisasi dengan masyarakat Desa Kumpulrejo di Balai Desa Kumpulrejo.”
Aksi tersebut menjadi simbol penolakan warga sekaligus desakan agar perusahaan membuka ruang kordinasi dengan masyarakat sebelum aktivitas pengeboran kembali dilanjutkan.
Meski demikian, berdasarkan pantauan Lingkaralam.com, mobilisasi kendaraan operasional menuju lokasi proyek masih berlangsung. Sejumlah truk bermuatan pipa pengeboran dan kendaraan pendukung lainnya terlihat keluar masuk area proyek, sehingga memunculkan pertanyaan di kalangan warga mengenai tindak lanjut atas tuntutan penghentian sementara aktivitas tersebut.

Warga berharap perusahaan segera memberikan penjelasan secara terbuka serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar seluruh aktivitas operasional dapat berjalan dengan mengedepankan komunikasi dan keterbukaan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Tawun Gegunung Energi (TGE) maupun PT Artekno belum memberikan keterangan resmi terkait penghentian aktivitas yang diminta warga maupun masih berlangsungnya mobilisasi kendaraan operasional di lokasi proyek.
Lingkaralam.com masih berupaya menghubungi manajemen PT TGE, PT Artekno, serta instansi terkait untuk memperoleh konfirmasi. Tanggapan dari pihak perusahaan akan dimuat pada pemberitaan selanjutnya sebagai bagian dari prinsip keberimbangan informasi.(Redaksi).




