Rabu, Juli 1, 2026
spot_img

Jalan BKKD Sumengko Baru Selesai Akhir Tahun Kemarin Sudah Mengelupas, Dugaan Deviasi Mutu Mencuat

BOJONEGORO, Lingkaralam.com – Proyek pembangunan jalan beton melalui program Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) di Dusun Srumap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, menuai sorotan masyarakat setelah mengalami kerusakan dalam waktu relatif singkat. Infrastruktur yang baru diselesaikan pada penghujung 2025 itu kini telah menunjukkan penurunan kualitas fisik yang cukup signifikan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai mutu pelaksanaan pekerjaan dan efektivitas pengawasannya.

Hasil pantauan di lokasi memperlihatkan sejumlah kerusakan pada badan jalan berupa pengelupasan permukaan beton (scaling), lepasnya butiran agregat, retak-retak halus (shrinkage cracking), hingga permukaan yang mulai bergelombang di beberapa titik. Kerusakan dini tersebut menyebabkan lapisan beton kehilangan kekompakannya sehingga pasir dan kerikil mulai terlepas dari matriks beton.

Secara teknis, kondisi demikian berpotensi mempercepat proses degradasi konstruksi. Apabila tidak segera ditangani, air akan lebih mudah masuk melalui retakan, memicu kerusakan yang semakin meluas, memperpendek umur layanan jalan, sekaligus meningkatkan risiko terhadap keselamatan pengguna.

Indikasi Ketidaksesuaian Mutu Konstruksi

Munculnya kerusakan hanya beberapa bulan setelah proyek dinyatakan selesai memunculkan dugaan adanya ketidaksesuaian antara pelaksanaan pekerjaan di lapangan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan teknis yang objektif.

Salah seorang warga Dusun Srumap yang hampir setiap hari melintasi ruas jalan tersebut, menilai kerusakan dini ini tidak seharusnya terjadi apabila pekerjaan dilaksanakan sesuai standar konstruksi.

“Jalan ini baru selesai akhir tahun kemarin, tetapi sekarang permukaannya sudah banyak yang mengelupas dan dipenuhi pasir. Sebagai masyarakat tentu kami kecewa karena anggaran yang digunakan cukup besar, namun manfaatnya belum lama sudah berkurang. Kami berharap kualitas pekerjaan benar-benar diperiksa,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, sejak proses pembangunan berlangsung, pekerjaan terlihat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas pelaksanaan, termasuk proses perawatan beton (curing) setelah pengecoran.

“Sejak awal pengerjaan kami melihat prosesnya terkesan terburu-buru. Setelah selesai pun tidak terlihat perawatan beton yang maksimal. Karena itu kami menduga mutu campuran maupun proses pengerjaannya perlu diperiksa agar diketahui penyebab kerusakan yang sebenarnya,” katanya.

Warga Desak Audit Teknis dan Uji Laboratorium

Kerusakan yang terjadi dalam usia layanan yang masih sangat muda mendorong masyarakat meminta pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek tersebut. Menurut warga, pemeriksaan visual saja tidak cukup untuk memastikan apakah pekerjaan telah memenuhi spesifikasi kontrak.

Masyarakat mendesak Inspektorat Kabupaten Bojonegoro maupun pihak-pihak yang berkompetensi dalam pelaksanaan BKKD  melakukan audit teknis melalui pengujian core drill. Pengujian tersebut dinilai penting untuk mengetahui ketebalan aktual perkerasan beton, kualitas material, serta kuat tekan beton di laboratorium sehingga dapat dibandingkan dengan spesifikasi yang dipersyaratkan dalam kontrak.

Apabila hasil pemeriksaan nantinya menunjukkan adanya ketidaksesuaian spesifikasi yang mengakibatkan penurunan mutu konstruksi, warga berharap pemerintah menindaklanjutinya sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk mewajibkan pelaksana bertanggung jawab melakukan perbaikan atau rekonstruksi agar fungsi jalan sebagai infrastruktur publik dapat kembali memberikan manfaat secara optimal.

Oleh : M. Zainuddin

Baca juga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Terkini

error: Konten diproteksi!