Tuban, Lingkaralam.com – Realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Sokosari 3, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban kembali menuai sorotan publik. Menu yang dibagikan kepada siswa dinilai didominasi produk pabrikan, sehingga memunculkan pertanyaan terkait kesesuaian dengan semangat awal program.
Berdasarkan dokumentasi yang diterima redaksi, paket MBG yang diterima siswa dalam satu hari terdiri dari dua bungkus biskuit Roma Malkist, satu kue kemasan Pia 100 kacang hijau, satu butir telur rebus, serta satu buah salak.
Komposisi menu tersebut langsung menjadi perbincangan di kalangan wali murid. Pasalnya, dalam berbagai arahan pelaksanaan, program MBG disebut mendorong pemanfaatan bahan pangan segar serta pemberdayaan petani dan pelaku UMKM lokal.
“Kalau mayoritas isinya makanan kemasan seperti ini, di mana letak pemberdayaan UMKM desa?” ujar salah satu wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Sejak awal digulirkan, MBG tidak hanya diproyeksikan untuk pemenuhan gizi siswa, tetapi juga sebagai stimulus perputaran ekonomi lokal melalui pembelian bahan pangan seperti jagung, ketela, kentang, sayuran, telur, dan buah dari petani sekitar.
Dominasi produk olahan pabrik dalam paket MBG Sokosari 3 dinilai berpotensi menggeser tujuan tersebut. Selain aspek pemberdayaan ekonomi desa, publik juga mempertanyakan kesesuaian komposisi menu dengan besaran anggaran per siswa per hari yang telah ditetapkan.
Beberapa pengamat kebijakan publik di Tuban menilai penggunaan bahan kemasan secara dominan perlu dievaluasi apabila tidak disertai alasan teknis yang jelas, seperti pertimbangan fortifikasi gizi, efisiensi distribusi, atau keterbatasan pasokan bahan lokal.
“Program ini bukan sekadar membagikan makanan. Ada misi sosial dan ekonomi yang harus dijaga agar manfaatnya dirasakan lebih luas,” ujar seorang pengamat kebijakan publik daerah.
Di sisi lain, warganet yang mengaku sebagai pelaksana MBG Sokosari 3 menegaskan bahwa paket tersebut merupakan jatah untuk satu hari, bukan dua hari sebagaimana isu yang sempat beredar.
Masyarakat berharap adanya transparansi lebih lanjut terkait perencanaan menu dan penggunaan anggaran, agar pelaksanaan MBG benar-benar sejalan dengan semangat awal: meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus menggerakkan ekonomi lokal, bukan sekadar menjadi distribusi produk kemasan.
Tim Redaksi




