Oleh: Lingkaralam
Malam di terminal Cepu kini menyimpan rahasia yang tak berani disebut terang-terangan. Di sekitar kawasan terminal yang di siang hari hanya ramai oleh deru bus dan langkah penumpang, kehidupan lain berdenyut diam-diam di antara tembok kos yang tampak biasa.
Ketika lampu jalan mulai redup, layar-layar ponsel justru menyala. Dari balik aplikasi bernama MyChat, percakapan ringan menjelma menjadi perjanjian yang samar, emoji senyum, dan angka-angka yang mengikat kesepakatan. Dunia yang tadinya maya berubah menjadi nyata, di kamar sempit dengan tirai tertutup rapat.
Mereka menyebutnya open BO istilah yang mengaburkan batas antara kebutuhan dan godaan, antara cinta dan transaksi. Semua berlangsung cepat, dingin, dan tanpa tatapan.
“Awalnya katanya diperlakukan full servis, main seperti pacar,” ucap seseorang open BO dengan suaranya lirih, enggan menyebut nama. “Tapi begitu selesai, semuanya berubah. Janji hanya tinggal kata-kata.
Di balik layar, wajah-wajah yang dijajakan sering tak sesuai dengan kenyataan. Foto hanya bayangan. Rayuan hanyalah suara. Dan cinta, bila masih pantas disebut cinta, menjadi sehelai ilusi yang pudar seiring notifikasi baru masuk.
Beberapa pengguna mengaku diperlakukan kasar ketika menawar harga tidak sesuai. Di ruang digital itu, sopan santun sering tak menemukan tempat. Transaksi bisa berubah tegang hanya karena selisih beberapa lembar uang.
Fenomena ini tumbuh seperti akar yang tak terlihat sunyi, namun mencengkeram kuat. Lokalisasi lama kini berpindah ke genggaman tangan (telefon), dari kamar kost ke ruang obrolan. Tak ada lagi rumah bordir dengan lampu merah, karena merah kini menyala di ikon notifikasi aplikasi MyChat.
Seorang pemerhati sosial di Blora berkata pelan, Dulu orang harus datang ke tempat tertentu untuk mencari pelarian. Sekarang, cukup lewat layar. Tapi penipuan, kekecewaan, bahkan luka batin masih sama saja.
Kawasan Kecamatan Cepu cermin kecil dari zaman yang berlari terlalu cepat. Di sana, cinta dijual tanpa sentuhan, janji ditebar tanpa rasa. Dan di antara pesan-pesan singkat yang hilang begitu saja, tersisa satu hal yang tetap nyata yaitu kesepian manusia yang tak kunjung sembuh.




