TUBAN, Lingkaralam.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, kembali menuai sorotan. Kali ini, temuan mencuat dari MBG Mentoro 3, Desa Mentoro, setelah salah satu menu sayur yang telah didistribusikan kepada penerima manfaat didapati terdapat ulat, serta buah salak dalam kondisi busuk.
Temuan tersebut disebut terjadi pada paket makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat di Desa Nguruan, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, usai pendistribusian pada 31 Maret 2026.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ulat ditemukan menempel pada salah satu komponen sayuran dalam menu makan yang telah dibagikan. Selain itu, buah salak yang turut disertakan dalam paket makanan juga dilaporkan dalam kondisi tidak layak konsumsi karena membusuk.
Kondisi tersebut sontak memicu kekhawatiran masyarakat, terlebih program MBG sejatinya dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi bagi para penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah dan kelompok sasaran lainnya.
Temuan ini menambah daftar persoalan yang belakangan mulai mengemuka dalam pelaksanaan program MBG di sejumlah titik. Persoalan utama yang kini menjadi perhatian publik bukan hanya soal distribusi, tetapi juga menyangkut standar kebersihan, kualitas bahan pangan, serta mekanisme quality control (QC) sebelum makanan disalurkan.

Jika benar makanan yang dibagikan mengandung ulat dan buah yang tidak layak konsumsi, maka hal itu menandakan adanya dugaan kelalaian serius dalam proses sortir bahan, pengolahan, hingga pengepakan.
Dalam program berbasis layanan gizi seperti MBG, setiap bahan pangan semestinya melalui tahapan pemeriksaan ketat, mulai dari bahan mentah, proses memasak, hingga sebelum makanan dikirim ke penerima.
Program MBG tidak semata bicara soal makanan yang sampai ke tangan penerima manfaat, melainkan juga menyangkut kelayakan, keamanan, dan mutu konsumsi. Sebab, makanan yang terkontaminasi atau menggunakan bahan yang tidak segar justru berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan.
Karena itu, temuan di MBG Mentoro 3 dinilai perlu menjadi alarm keras bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan dapur MBG, baik unsur pengelola, penanggung jawab teknis, tim pengawasan gizi, hingga pihak distribusi.
Publik juga berhak mengetahui apakah kejadian tersebut merupakan insiden tunggal atau justru mencerminkan lemahnya pengawasan yang terjadi secara berulang.
Perlu Evaluasi Menyeluruh
Atas temuan ini, evaluasi menyeluruh dinilai mendesak dilakukan, terutama terhadap:
- proses pemilihan dan penyimpanan bahan makanan,
- kebersihan dapur produksi,
- ketelitian tim pengecekan menu,
- hingga pengawasan saat makanan dikemas dan dikirim.
Langkah korektif harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. Terlebih, program MBG merupakan program yang menyangkut konsumsi langsung masyarakat, sehingga tidak boleh ditangani secara serampangan.
Hingga berita ini ditayangkan, redaksi masih membuka ruang klarifikasi kepada pihak pengelola MBG Mentoro 3 Desa Mentoro, pihak distribusi, maupun instansi terkait lainnya guna memberikan penjelasan resmi atas temuan tersebut.
Lingkaralam.com akan terus menelusuri dugaan persoalan ini sebagai bagian dari fungsi kontrol publik terhadap pelaksanaan program pelayanan gizi di daerah.(Redaksi).




