Tuban, Lingkaralam.com – Proyek Rehabilitasi Saluran di Desa Parangbatu, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, tahun anggaran 2025 menuai perhatian publik. Kegiatan yang merupakan produk Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Tuban tersebut diduga mengalami perubahan volume pekerjaan pada item bronjong.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Lingkaralam.com, dalam dokumen perencanaan awal pekerjaan bronjong tercantum volume sepanjang 35 meter dengan ketinggian 6 meter. Namun pada realisasi di lapangan disebut berubah menjadi sepanjang 70 meter dengan ketinggian 3 meter.
Perubahan spesifikasi tersebut memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Publik mempertanyakan apakah penyesuaian volume telah melalui mekanisme resmi seperti addendum kontrak serta mendapatkan persetujuan teknis dan administratif sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Diketahui, proyek dengan nilai kontrak sebesar Rp 472.790.292,00 itu dikerjakan oleh CV Indonesia Karya Abadi yang beralamat di Jalan Karang Indah Timur, Cluster Megah Jaya Kav. No 11, Tuban.
Secara teknis, pekerjaan penguatan tebing ini bertujuan untuk mencegah potensi longsor sekaligus menjaga stabilitas konstruksi di area terdampak. Kontur tanah berbatu dengan kemiringan cukup tajam dinilai rawan mengalami erosi, terutama saat curah hujan tinggi.
Dari gambar perencanaan teknis yang beredar, pemasangan bronjong dirancang menggunakan sistem bertingkat (trap) mengikuti kontur lereng. Material yang digunakan berupa bronjong pabrikan berukuran 0,5 x 1 x 2 meter serta 0,5 x 1 x 1 meter.
Pada bagian dasar konstruksi terpasang geotextile non woven yang berfungsi sebagai pemisah antara tanah dan material batu guna meningkatkan daya tahan struktur. Dalam detail teknis disebutkan tinggi pasangan bronjong dapat mencapai sekitar 6 meter dengan lebar dasar kurang lebih 3 meter. Sementara pada bagian atas dilakukan galian tanah yang disesuaikan dengan elevasi perencanaan.
Struktur tersebut dirancang untuk menahan tekanan tanah dan meminimalisir risiko erosi pada tebing. Dengan karakteristik lereng curam dan tanah berbatu, sistem bronjong bertingkat dinilai sebagai solusi teknis yang relevan untuk penguatan lereng.
Namun demikian, perubahan volume dari ketinggian 6 meter menjadi 3 meter dengan penyesuaian panjang konstruksi menjadi 70 meter kini menjadi sorotan. Perubahan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi daya dukung dan kekuatan struktur sebagaimana yang dirancang dalam dokumen awal.
Saat dikonfirmasi, seorang perwakilan Dinas (SDA) Tuban menyampaikan bahwa perubahan tersebut dilakukan atas permintaan warga setempat. Penyesuaian panjang bronjong disebut untuk melindungi lahan warga agar tidak terdampak longsor.
“Perubahan itu atas permintaan warga supaya tanah mereka tidak longsor. Untuk ketinggian tebing sudah direncanakan anggaran pekerjaan pada tahun 2027,” ujarnya.
Ia, juga menjelaskan secara rinci mengenai dasar pertimbangan teknis serta dokumen administratif yang menyertai perubahan tersebut.
Masyarakat berharap proyek pengaman tebing ini dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan sekitar.
Oleh: M Zainuddin




