Sabtu, Maret 21, 2026
spot_img

Di Antara Takbir dan Keluhan: Kisah Sunyi LPG di Tanah Tuban

Tuban, Lingkaralam.com – Di sela gema takbir yang menggema dari surau ke surau, ada suara lain yang pelan namun terus berulang di ruang-ruang tamu: keluhan tentang harga LPG yang kian meninggi. Lebaran yang seharusnya menjadi perayaan hangat, perlahan berubah menjadi ruang berbagi kegelisahan.

Di meja-meja sederhana, di antara hidangan ketupat dan opor, percakapan tak lagi sepenuhnya tentang rindu yang terbayar. Ia bergeser, menyelinap ke satu topik yang sama—gas melon yang kini terasa makin jauh dari jangkauan.

Harga yang dulu terasa biasa, kini menjelma angka yang membuat dahi berkerut. Dari Rp 20 ribuan, ia melambung, menembus Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu. Angka-angka itu tak hanya sekadar nominal, tetapi beban yang diam-diam dipikul hampir setiap rumah.

“Sekarang ini kalau kumpul, ya ngomongnya itu lagi… gas naik,” ucap seorang warga, lirih, seolah tak ingin merusak suasana hari raya.

Kenaikan itu tak datang dengan suara gaduh. Ia bergerak senyap, dari satu percakapan ke percakapan lain. Dari satu rumah ke rumah berikutnya. Menjadi semacam cerita kolektif yang tak perlu diumumkan, karena semua orang sudah merasakannya.

Di balik lonjakan harga, tersimpan tanda tanya yang tak kunjung terjawab. Tentang jalur distribusi yang mungkin tersendat, tentang tangan-tangan tak terlihat yang bermain di antara kebutuhan dan kesempatan. Dugaan-dugaan itu tumbuh, seperti bisik-bisik yang tak pernah benar-benar hilang.

Ramadan yang baru saja berlalu, dan Lebaran yang tengah dirayakan, semestinya menjadi waktu lapang bagi hati. Namun kenyataannya, kebutuhan justru meninggi, sementara daya jangkau terasa semakin sempit.

Ada ironi yang tak bisa dihindari. Di saat orang-orang saling memaafkan, ada beban yang tetap tinggal—tentang dapur yang harus tetap menyala, tentang pengeluaran yang tak bisa ditunda.

Di atas kertas, segalanya mungkin tampak baik-baik saja. Stok disebut aman, distribusi dikatakan lancar. Namun di dapur-dapur kecil warga, realitas berbicara lain. Api tetap menyala, tetapi dengan harga yang tak lagi ramah.

Harapan pun menggantung, sederhana namun mendesak: agar yang seharusnya menjadi hak, benar-benar sampai tanpa harus melewati jalan yang berliku. Agar harga kembali berpijak, tidak melayang jauh dari jangkauan mereka yang paling membutuhkan.

Dan di tengah gema takbir yang perlahan mereda, cerita tentang LPG ini masih akan tinggal. Menjadi percakapan yang belum selesai di antara hangatnya silaturahmi dan dinginnya kenyataan.

Baca juga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Terkini

error: Konten diproteksi!