Tuban, Lingkaralam.com – Aktivitas pengelolaan lahan di kawasan hutan Perhutani di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, menuai sorotan. Kepala Desa (Kades) Kapu disebut-sebut memiliki lahan garapan di area tersebut, namun kondisi di lapangan diduga mengalami perubahan signifikan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media, dari sejumlah petani sekitar, lahan yang digarap tersebut kini tampak gundul. Pepohonan yang sebelumnya tumbuh di area itu dilaporkan telah ditebang habis.
“Sejak lahan itu digarap (Kades), tanaman di situ langsung habis semua. Padahal yang di sekitarnya masih lebat,” ujar salah satu petani yang enggan disebutkan namanya, Minggu (22/3/2026).
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat. Pasalnya, area di sekitar lahan tersebut masih terlihat hijau dan dipenuhi vegetasi, berbeda mencolok dengan lokasi yang diduga digarap oleh Kades Kapu.
Sejumlah warga menilai, jika benar penebangan dilakukan tanpa prosedur yang jelas, hal itu berpotensi melanggar aturan pengelolaan kawasan hutan yang berada di bawah kewenangan Perhutani.
Menanggapi hal tersebut, Kades akhirnya memberikan klarifikasi. Ia dengan tegas membantah tudingan telah melakukan penebangan pohon di kawasan tersebut.
“Ya nggak, Pak. Saya malah nggak pernah nebang kayu. Masa saya kepala desa kok ikut nyolong kayu,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia menegaskan bahwa dirinya hanya menggarap lahan sebagaimana adanya tanpa melakukan penebangan. Menurutnya, penggarap lahan Perhutani tidak mungkin berani menebang pohon karena berisiko kehilangan hak garap.
“Saya garap ya apa adanya. Kalau penggarap itu nggak mungkin berani nebang kayu. Kalau sampai ketahuan, langsung ditutup, tidak boleh menggarap lagi tanahnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa penggarap lahan Perhutani bukan hanya dirinya, melainkan juga warga lain yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
“Yang garap tanah Perhutani itu bukan hanya saya. Semua warga yang berdekatan ya ikut garap. Tapi kalau soal ditebangi, saya kira tidak ada yang berani kalau bukan pencuri kayu,” imbuhnya.
Kades juga menilai isu yang beredar merupakan opini sepihak dari pihak yang tidak menyukainya.
“Itu hanya kata orang yang nggak suka saja,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, polemik tersebut masih menjadi perhatian masyarakat. Warga berharap adanya penelusuran lebih lanjut dari pihak terkait guna memastikan kondisi sebenarnya di lapangan serta menjaga kelestarian kawasan hutan negara.
Oleh: Tim Redaksi




