Tuban, Lingkaralam.com – Polemik penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) edisi Ramadan di wilayah Rengel, Kabupaten Tuban, kembali mencuat. Kali ini, Tim Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tuban Rengel menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada para penerima manfaat dan wali murid atas temuan susu kedelai yang dinilai tidak layak konsumsi.
Permohonan maaf tersebut disampaikan menyusul laporan masyarakat terkait kondisi sari kedelai dalam paket MBG pada 26 Februari 2026 yang disebut menggumpal.
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas menu yang kurang layak konsumsi yang telah terdistribusi kepada penerima manfaat,” demikian pernyataan resmi Tim SPPG Tuban Rengel.
Dalam klarifikasinya, tim dapur menjelaskan bahwa sari kedelai didistribusikan sekitar pukul 09.00 WIB. Namun, pada pukul 12.00 WIB, pihaknya menerima laporan bahwa produk tersebut mengalami perubahan tekstur atau menggumpal.
Menindaklanjuti laporan itu, tim langsung melakukan penahanan distribusi terhadap sisa paket yang belum disalurkan guna menghindari risiko lebih lanjut.
“Dari total paket yang disiapkan, sekitar 800 porsi telah terdistribusi. Sisanya sebanyak 1.193 paket kami hentikan distribusinya,” jelas pernyataan tersebut.
Pihak SPPG juga menyatakan bahwa paket yang telah terlanjur terdistribusi akan diganti dengan menu lain. Saat ini, proses penghitungan anggaran pengganti masih dikoordinasikan dengan pihak terkait.
Produk UMKM dan Faktor Penyimpanan
Tim dapur menyebut, sari kedelai yang digunakan merupakan produk UMKM. Mereka mengakui bahwa produk tersebut memerlukan penanganan dan penyimpanan suhu tertentu agar kualitas tetap terjaga.
“Jika tidak disimpan pada suhu tertentu, kualitas produk bisa menurun bahkan bisa basi,” ungkapnya.
Meski demikian, pernyataan tersebut tidak serta-merta meredakan kritik dari sejumlah wali murid yang sebelumnya mempertanyakan standar mutu dan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG Ramadan.
Evaluasi dan Perbaikan
Tim SPPG Tuban Rengel memastikan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa. Evaluasi mencakup sistem distribusi, pengawasan kualitas produk, hingga mekanisme penyimpanan bahan pangan.
Mereka juga menyampaikan apresiasi atas kritik dan masukan masyarakat yang dinilai sebagai bagian dari kontrol publik terhadap pelaksanaan program pemenuhan gizi.
“Kami berharap para penerima manfaat dapat menerima permohonan maaf kami dan memberikan kesempatan kepada kami untuk terus memperbaiki pelayanan,” lanjutnya.
Program MBG sendiri memiliki tujuan strategis dalam mendukung pemenuhan gizi anak dan kelompok rentan. Karena itu, aspek keamanan pangan dan standar kelayakan konsumsi menjadi hal yang tidak dapat ditawar dalam implementasinya.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada laporan resmi terkait dampak kesehatan akibat konsumsi sari kedelai tersebut. Namun, sorotan publik terhadap tata kelola distribusi MBG di daerah diperkirakan akan terus menguat seiring meningkatnya partisipasi masyarakat dalam melakukan pengawasan.
Oleh: M Zainuddin




